Orang-orang yang ada di dalam memberikan tepuk tangan kepada tukang parkir yang diikuti sorakan-sorakan yang riuh, sebab ia tetap berdiri dan mrentangkan tangan kanan kepadanya.

Baca Juga:Bullshit Job

 

Sesekali tukang parkir memberikan respon kepadanya untuk bersabar diikuti dengan senyuman miliknya. 

 

Tukang parkir itu akhirnya mempersilahkan dan memberikan jalan kepada Pengunjung yang hendak pergi, sambil memberikan senyuman setengah ketawa kepadanya. Ia pun mendengus kesal dengan wajah geram. Ia merasa dipermalukan olehnya.  Kemudian ia pun pergi meninggalakan kafe dengan wajah yang semakin memerah.

 

Sejak itu tukang parkir semakin percaya diri bahwa dialah penguasa parkiran kafe itu. Semakin percaya diri lagi ketika orang-orang yang ada dalam kafe bertepuk tangan dan bersorak untuknya. Merasa mereka mendukungnya. Dialah sosok penguasa parkiran kafe dengan tangan kanannya yang berwibawa.

 

Tapi sayang, ketika seorang anak perempuan dari pemilik kafe lewat, entah baru datang atau hendak beranjak pergi dari kafe, tukang parkir itu lebih mengutamakannya degan keramahan yang nyata pula dibanding pengunjung yang baru datang maupun hendak pergi pula. Bukan karena anak dari pemilik kafe. Bukan. Ada satu alasan yang dia simpan. Dia sebagai penguasa parkiran seakan-akan hilang. Tangan kanan yang tadinya berwibawa, merentang tegap lurus ke kanan, seakan lemah begitu saja. Karyawan-karyawan kafe adalah sebagai saksi mata atas apa yang dilakukan tukang parkir kepadanya.