Suatu ketika dia ditanya saat ia hendak memesan kopi manis oleh salah satu karyawan kafe disitu.
“Mas…Mas… sampean tetap saja mendahulukan Mbak Diva dari pada pengunjung-pengunjung yang hendak datang maupun pergi. Dengan begitu ramahnya sampean mendahulukannya. Ada Apa e Mas? Awas lo, Mbak Diva anak e pemiliki kafe ini lo, Mas.” Dengan meddok Jawanya ia bertanya sambil mengingatkan kalau mbak Diva anak dari pemilik kafe itu. Tukang parkir itu hanya tersenyum mendengarkannya. Giginya yang agak maju membuat kasir ikut tersenuyum juga. Dengan santainya ia menyulut Bako Kretekus Madura Super di hadapan kasir perempuan. Ia pun batuk-batuk sambil mengibas-ngibaskan tangannya sambil menegurnya, sebab asap bako yang mengepul yang keluar dari mulut tukang parkir.
Bako Kretekus merupakan barang titipan Mahasiwa di kafe-kafe, yang diniatkan untuk mencari tambahan biaya hidup di kota rantau. Sasarannya adalah mahasiswa-mahasiswa lain yang suka ngelinting.
“Aku hanya punya hutang budi kepada Mbak Diva. Dialah yang menawarkan pekerjaan jadi tukang parkir dan mengajakku ke sini. Dan aku mau-mau saja dengan penawarannya.” Jawabnya. Mulutnya sambil mengepulkan asap bako Madura.
“Oh, gara-gara itu to, Mas…”