Akibatnya, Madura United semakin terpuruk. Hasil buruk yang terus berdatangan bukan hanya memengaruhi posisi di klasemen, tetapi juga menghancurkan mental para pemain.

Rakhmad mengungkapkan, suasana ruang ganti saat itu jauh dari ideal. Frustrasi akibat rentetan kekalahan membuat hubungan antar pemain memburuk. Bahkan, pertengkaran sempat terjadi dalam sesi latihan.

 

"Kondisinya saat itu sangat sulit. Kadang-kadang di latihan ada pemain yang berantem. Ketika kalah, semua saling menyalahkan," katanya.

 

Saat dipercaya memimpin tim, langkah pertama yang dilakukan Rakhmad bukan mengubah taktik atau strategi, melainkan membenahi mental dan hubungan antar pemain. Ia berusaha mengembalikan kepercayaan yang sudah hilang dan membangun kembali kekompakan di dalam skuad.

 

Kepada para pemain, ia meminta agar berhenti mencari kambing hitam setiap kali tim menelan kekalahan. Sebaliknya, mereka diminta lebih banyak melakukan introspeksi.

 

"Saya selalu bilang, kalau kalah jangan langsung menunjuk orang lain. Coba tunjuk diri sendiri dulu. Dengan begitu setiap pemain bisa belajar dari kesalahan dan berkembang bersama," ujarnya.