estoria.id - Nama Susanah mendadak menjadi perhatian publik setelah Presiden Prabowo Subianto menyebut sosoknya dalam pidato kenegaraan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/08/2026).
Dalam pidato tersebut, Prabowo memperkenalkan Susanah sebagai buruh harian yang bekerja mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram. Pernyataan itu sontak memicu rasa penasaran sekaligus perdebatan di media sosial.
Pasalnya, angka Rp700 ribu per kilogram dinilai sangat besar jika dibandingkan dengan pekerjaan buruh harian pada umumnya. Publik pun mulai mencari tahu siapa sebenarnya perempuan yang disebut langsung oleh Presiden tersebut.
Namun, di balik sorotan tersebut, kehidupan Susanah ternyata jauh dari gambaran seorang pekerja dengan penghasilan fantastis.
Perempuan asal Bogor berusia 38 tahun itu justru menjalani kehidupan sederhana dan harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, termasuk memastikan pendidikan anak-anaknya tetap berjalan.
Hadir Langsung Saat Prabowo Berpidato
Susanah merupakan salah satu warga yang hadir langsung dalam pidato kenegaraan Presiden Prabowo di Kompleks Parlemen.
Mengenakan busana bernuansa adat lengkap dengan mahkota berwarna keemasan, Susanah diperkenalkan sebagai buruh harian.
"Hari ini hadir bersama kita, Ibu Susana dari Kabupaten Bogor, dia bekerja sebagai buruh harian. Mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram," ujar Prabowo dalam pidatonya, dikutip dari siaran YouTube TV Parlemen.
Prabowo juga menyebut Susanah sebagai penerima sejumlah program bantuan sosial pemerintah. Ia tercatat mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako. Bantuan tersebut disebut turut menopang kebutuhan keluarga sekaligus membantu pendidikan anak-anak Susanah.
"Program Keluarga Harapan dan Program Sembako menjaga pendidikan anak-anaknya," kata Prabowo.
Pernyataan mengenai upah Rp700 ribu per kilogram kemudian menjadi bagian yang paling banyak diperbincangkan.
Fakta Kehidupan Susanah Terungkap
Di tengah ramainya perbincangan, informasi mengenai kehidupan sehari-hari Susanah kembali muncul melalui tayangan dan materi yang pernah dipublikasikan pemerintah.
Dari penelusuran tersebut, pekerjaan utama Susanah ternyata bukan seperti yang banyak dibayangkan setelah mendengar pidato Presiden.
Susanah diketahui bekerja sebagai buruh jahit kain majun secara lepas. Setiap pagi, sekitar pukul 07.00 WIB hingga siang hari, ia mengerjakan kain majun yang diperoleh dari pengepul.
Mesin jahit, gunting, hingga perlengkapan kerja yang digunakan Susanah bukan miliknya sendiri. Seluruh peralatan tersebut merupakan milik pemilik bahan atau bos tempat ia bekerja.
Sistem pembayaran yang diterimanya juga berdasarkan berat kain yang berhasil dikerjakan, yakni Rp700 per kilogram. Dalam kondisi normal, Susanah rata-rata mampu menyelesaikan sekitar 20 kilogram kain dalam sehari. Jika dihitung, pendapatan yang diperolehnya dari pekerjaan tersebut hanya sekitar Rp14 ribu sehari.
“Alhamdulillah ya meskipun sehari 20 kilogram ngejahit, 20 x Rp700 kan cuma berapa ya, Rp14 ribu. Ya Alhamdulillah saja buat hitung-hitung uang taruh uang simpanan, nanti kalau nggak ada uang jajan tinggal minta begitu,” ujar Susanah.
Jumlah tersebut tentu sangat berbeda dengan kesan yang muncul dari angka Rp700 ribu per kilogram yang disebut dalam pidato Presiden.
Ketika bahan dari pengepul sedang banyak, terlebih saat hari libur, volume pekerjaan Susanah bisa meningkat. Ia bersama sejumlah tetangganya bahkan dapat menyelesaikan sekitar 50 ikat atau 50 kilogram kain dalam sehari.
Siang Hari Beralih Mencuci Ompreng MBG
Pekerjaan Susanah tidak berhenti setelah menyelesaikan jahitan. Sekitar pukul 13.00 WIB, ia kembali bekerja di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Di tempat tersebut, Susanah bertugas mencuci ompreng yang digunakan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pekerjaan itu dilakukan untuk menambah pemasukan keluarga.
“Jadi bisa bantu-bantu suami nambah penghasilan,” kata Susanah.
Rutinitas tersebut menggambarkan bagaimana Susanah harus menjalani lebih dari satu pekerjaan dalam sehari demi menopang kebutuhan rumah tangganya.
Sementara itu, suaminya, Didim, bekerja sebagai kuli bangunan. Penghasilan sang suami juga tidak menentu karena bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan.
Dalam kondisi tertentu, Didim bahkan bisa tidak mendapatkan panggilan kerja selama dua hingga tiga minggu berturut-turut.
Kondisi ekonomi keluarga tersebut membuat penghasilan Susanah dari berbagai pekerjaan menjadi sangat berarti bagi keberlangsungan rumah tangga.
Rumah Sederhana dan Tercatat sebagai Penerima Bantuan
Kondisi keluarga Susanah juga menjadi perhatian pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) dari Kementerian Sosial.
Pendamping PKH PSNK Kemensos, Popi Nopianti, mengatakan keluarga Susanah memang layak mendapatkan bantuan jika melihat kondisi tempat tinggal dan mata pencaharian mereka.
“Memang layak dari kondisi rumah. Karena rumah kalau kita bilang termasuk tidak layak huni,” ujar Popi dalam tayangan YouTube Sekretariat Presiden.
Menurut Popi, kondisi pekerjaan suami Susanah juga menjadi salah satu pertimbangan.
“Pekerjaan suami yang dikatakan kuli bangunan. Karena kuli bangunan tidak selamanya ada,” katanya.
Keluarga Susanah kemudian tercatat sebagai penerima manfaat PKH dan bantuan sembako. Ia juga pernah menerima Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT).
Ketiga anak Susanah juga mendapatkan bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP).
“Anak saya tiga-tiganya juga dapat PIP,” ujar Susanah.
Pendidikan Anak Jadi Prioritas
Di tengah keterbatasan ekonomi, Susanah dan suaminya tetap berusaha mempertahankan pendidikan anak-anak mereka.
Bagi Susanah, sekolah merupakan salah satu jalan agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
Ia bahkan mengaku siap berutang jika kondisi ekonomi keluarga sedang sulit, asalkan anak-anaknya tetap dapat bersekolah.
“Sekolah pokoknya penting buat anak. Dari mana jalannya, meskipun utang-utang, tetap sekolah. Biar dapat ijazah, biar enak ngelamar kerjanya,” tegas Susanah.
Tekad tersebut menjadi salah satu alasan Susanah terus menjalani berbagai pekerjaan meski penghasilan yang diterimanya relatif kecil.
Ia tidak ingin keterbatasan ekonomi membuat anak-anaknya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan.
Punya Impian Memiliki Usaha Sendiri
Di balik kesibukannya bekerja sebagai buruh, Susanah ternyata menyimpan keinginan untuk memiliki usaha sendiri.
Ia ingin mempunyai peternakan ayam sehingga tidak selamanya bergantung pada pekerjaan yang peralatannya masih menjadi milik orang lain.
“Kalau ekonomi membaik ya penginnya punya usaha sendiri, enggak dari orang. Kan ini semua punya bos ya, sampai ke mesin-mesin, ke peralatan gunting saja punya bos,” ungkapnya.
Impian tersebut menjadi gambaran sederhana mengenai harapan Susanah untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya.
Artikel Komdigi tentang Susanah Tak Lagi Tersedia
Perbincangan mengenai Susanah semakin ramai setelah publik menemukan adanya perbedaan informasi mengenai pekerjaannya.
Sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) pernah memuat artikel yang mengangkat kisah Susanah, bantuan sosial yang diterimanya, serta perannya dalam membantu perekonomian keluarga.
Dalam artikel tersebut tidak disebutkan bahwa Susanah merupakan pengupas bawang.
Namun, ketika artikel tersebut kembali ditelusuri pada Minggu (16/8/2026) sekitar pukul 09.00 WIB, halaman artikelnya disebut sudah tidak menampilkan isi berita mengenai Susanah.
Meski demikian, tautan artikel dengan judul yang berkaitan dengan kisah Susanah, PKH, hingga MBG masih dapat ditemukan. Belum ada penjelasan resmi dari Komdigi mengenai alasan materi tersebut tidak lagi tersedia.
Istana Akan Mengecek Pernyataan soal Upah Rp700 Ribu
Besarnya angka Rp700 ribu per kilogram yang disebut Prabowo juga telah memicu pertanyaan publik.
Potongan video pidato Presiden beredar luas di media sosial dan mendapat beragam komentar dari warganet.
Sebagian mempertanyakan apakah angka tersebut benar-benar merupakan upah yang diterima Susanah di lapangan atau terdapat perbedaan penyebutan maupun konteks pekerjaan.
Pihak Istana pun merespons polemik tersebut. Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah akan memeriksa kembali data yang menjadi dasar pernyataan tersebut.
“Nanti kita cek ya,” ujar Prasetyo di Istana Negara, Jakarta, Sabtu (15/08/2026).
Ketika ditanya mengenai detail angka yang disebut dalam pidato Presiden, Prasetyo kembali menegaskan bahwa pemerintah akan melakukan pengecekan.
“Kalau detailnya kita cek,” katanya.
Pernyataan tersebut membuat kisah Susanah tidak lagi sekadar soal angka Rp700 ribu per kilogram.
Di balik sorotan publik, terdapat cerita seorang perempuan yang harus bekerja dari pagi hingga siang sebagai buruh jahit, kemudian melanjutkan pekerjaan mencuci ompreng MBG pada siang hari.
Bersama suaminya yang juga bekerja serabutan, Susanah berusaha mempertahankan kehidupan keluarga sekaligus memastikan ketiga anaknya tetap bersekolah.