“Lesbumi sekarang sebenarnya memiliki modal yang sangat besar. Para pendahulu sudah menyiapkan bahan-bahannya. Tinggal bagaimana warisan itu diolah menjadi karya dan gerakan yang relevan dengan kebutuhan hari ini,” tuturnya.
Pandangan tersebut mendapat respons positif dari Ketua Lesbumi PCNU Sumenep, Moh Junaidi. Ia mengaku berbagai masukan yang muncul dalam forum Malem Salekoran akan menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan dalam menyusun arah gerak organisasi ke depan.
Menurutnya, kesenian dan kebudayaan tidak boleh dipersempit hanya sebagai tontonan yang selesai ketika lampu panggung dimatikan. Seni harus menjadi ruang lahirnya ide, gagasan, pengetahuan, serta berbagai karya yang mampu memengaruhi kehidupan sosial masyarakat.
Karena itu, Lesbumi berkomitmen mengambil peran sebagai fasilitator yang memperkuat ekosistem kesenian dan kebudayaan secara lebih luas, tidak hanya berfokus pada pertunjukan dan perayaan.
“Kesenian harus menjadi ruang produksi gagasan dan pengetahuan. Tugas kami adalah menghadirkan ruang-ruang yang memungkinkan proses itu terus berlangsung,” kata Junaidi.
Ia menegaskan bahwa tradisi Malem Salekoran akan tetap dipertahankan sebagai salah satu warisan berharga dari kepengurusan sebelumnya. Forum tersebut dinilai penting sebagai ruang bertemunya generasi, gagasan, dan pengalaman yang menjadi fondasi pengembangan kebudayaan di Sumenep.
“Ini bukan sekadar agenda rutin. Malem Salekoran adalah ruang transfer pengetahuan yang harus terus dirawat agar semangat berkesenian dan berkebudayaan di Sumenep tetap hidup,” pungkasnya.