Sementara itu, Ibnu Hajar mengajak peserta forum melihat kesenian Sumenep dari akar sejarahnya. Menurut sastrawan yang dikenal aktif sejak era 1990-an tersebut, perkembangan kebudayaan di Sumenep tidak dapat dipisahkan dari tradisi pesantren yang selama berabad-abad menjadi pusat produksi pengetahuan, nilai, dan kreativitas masyarakat Madura.
Ia menilai banyak ekspresi budaya yang tumbuh di Sumenep sesungguhnya lahir dari rahim pesantren dan kemudian berkembang menjadi identitas sosial masyarakat.
“Kalau kita berbicara tentang kebudayaan Sumenep, pesantren tidak bisa dilepaskan dari cerita itu. Banyak tradisi dan karya budaya yang tumbuh dari lingkungan pesantren,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Ibnu juga mengulas jejak sejarah lahirnya Lesbumi di Sumenep. Ia mengenang keberadaan Jaringan Seniman Sumenep (JSS) yang pada masanya menjadi titik temu para pelaku seni lintas disiplin.
Dari ruang-ruang kreatif seperti itulah, menurutnya, semangat berkesenian terus tumbuh hingga kemudian ikut melahirkan gerakan Lesbumi di daerah ini.
Ia bahkan mengingatkan kembali masa ketika Lesbumi di bawah kepemimpinan PCNU era KH Ilyasi Siradj mampu melahirkan karya-karya penting, salah satunya buku antologi puisi Kampung Indonesia Pasca Kerusuhan yang diterbitkan oleh LKiS.
Karena itu, Ibnu berharap Lesbumi tidak berhenti menjadi penyelenggara acara seremonial semata. Organisasi tersebut harus berani melangkah lebih jauh dengan menghadirkan karya, gagasan, riset, hingga gerakan kebudayaan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat.