ESTORIA - Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memasuki babak yang lebih berbahaya. Kali ini, bukan sekadar serangan militer biasa, melainkan serangan yang menyasar jantung industri energi kedua negara.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menuduh Israel telah memulai “permainan berbahaya” setelah melancarkan serangan terhadap fasilitas minyak, kompleks petrokimia, dan sejumlah lokasi sipil di wilayah Iran. Tuduhan itu disampaikan menyusul rentetan serangan yang menurut Teheran telah menyentuh sektor paling vital bagi perekonomian negara tersebut.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke fasilitas petrokimia di Haifa, Israel. IRGC menyebut langkah itu sebagai respons langsung atas serangan Israel terhadap infrastruktur energi Iran yang dinilai telah melampaui batas.
Menurut pernyataan resmi IRGC, serangan Israel ke kompleks petrokimia Mahshahr menjadi titik balik yang memicu eskalasi terbaru. Fasilitas tersebut merupakan salah satu aset strategis yang menopang industri energi Iran dan memiliki peran penting dalam rantai pasok minyak serta petrokimia negara itu.
Bagi Teheran, serangan terhadap sektor energi bukan sekadar serangan militer, melainkan ancaman langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional. Karena itu, Iran menegaskan tidak akan tinggal diam apabila aset-aset strategisnya terus menjadi sasaran.
Situasi semakin memanas setelah laporan menyebutkan puluhan rudal ditembakkan Iran ke wilayah Israel dalam serangan balasan yang berlangsung sejak akhir pekan. Aksi tersebut menjadi bagian dari rangkaian konfrontasi yang terus berkembang dan menyeret kawasan Timur Tengah ke dalam pusaran ketidakpastian baru.
Di tengah meningkatnya ketegangan, jalur diplomasi yang selama ini coba dibangun antara Iran dan Amerika Serikat ikut berada di ujung tanduk. Pemerintah Iran menilai perkembangan terbaru berpotensi merusak proses negosiasi yang sebelumnya mulai menunjukkan tanda-tanda kemajuan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran memperingatkan bahwa eskalasi militer hanya akan memperumit situasi dan memperkecil peluang tercapainya kesepakatan diplomatik dengan Washington. Menurutnya, setiap rudal yang ditembakkan dan setiap serangan yang terjadi akan semakin menjauhkan kedua pihak dari meja perundingan.
Dampak konflik itu tidak hanya dirasakan di medan tempur. Pasar energi dunia mulai menunjukkan reaksi keras. Kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya serangan ke fasilitas minyak dan petrokimia di kawasan Timur Tengah mendorong lonjakan harga minyak di pasar global.