"Kami tidak ingin hanya menjadi penonton. Karena itu seluruh jaringan mahasiswa sedang diminta melakukan kajian agar saat konsolidasi nanti lahir sikap bersama yang benar-benar matang," katanya.

 

Menurut Zainnur, penggunaan istilah Reformasi Jilid II sengaja dipilih untuk menggambarkan tingkat keseriusan persoalan yang sedang dihadapi bangsa.

Baginya, istilah tersebut bukan sekadar slogan politik, melainkan upaya membangunkan kesadaran publik sekaligus memberi sinyal kepada pemerintah bahwa ketidakpuasan masyarakat terus berkembang.

 

"Narasi Reformasi Jilid II kami angkat sebagai pengingat bahwa pemerintah harus melihat kondisi yang sedang terjadi. Banyak persoalan yang perlu segera dibenahi sebelum berubah menjadi krisis yang lebih besar," ujarnya.

 

Selain MBG dan Koperasi Desa Merah Putih, mahasiswa juga berencana mengkaji sejumlah kebijakan lain yang dinilai membebani anggaran negara. Daftar tuntutan disebut masih akan berkembang seiring hasil pembahasan dalam konsolidasi mendatang.