ESTORIA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi yang mulai berlaku pada 10 Juni 2026 tampaknya langsung menghantam dapur masyarakat. Belum genap sehari setelah penyesuaian harga, sejumlah bahan pangan strategis melonjak tajam dan memicu kekhawatiran baru terhadap daya beli warga yang semakin tertekan.
 

Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional menunjukkan gejala yang tak bisa dianggap remeh. Bawang merah menjadi komoditas yang mengalami lonjakan paling mencolok. Dalam sehari, harga bawang merah ukuran sedang melesat lebih dari 10 persen hingga menyentuh Rp57.650 per kilogram. Kenaikan sebesar Rp5.400 per kilogram itu menjadi sinyal awal bahwa efek kenaikan BBM mulai merembet ke pasar tradisional.

 

Gelombang kenaikan juga menyapu bawang putih. Komoditas yang menjadi kebutuhan utama rumah tangga tersebut naik hampir 10 persen menjadi Rp42.250 per kilogram. Kenaikan harga dalam waktu singkat ini memperlihatkan betapa sensitifnya sektor pangan terhadap perubahan biaya distribusi dan transportasi.
 

Tak hanya bumbu dapur, kelompok beras juga mulai menunjukkan gejala kenaikan. Beras kualitas bawah I tercatat naik hingga 5,14 persen menjadi Rp15.350 per kilogram. Beras kualitas bawah II ikut merangkak ke Rp14.800 per kilogram. Sementara beras medium dan premium juga bergerak naik, meski tidak setajam bawang merah dan bawang putih.
 

Situasi serupa terjadi pada komoditas cabai yang selama ini dikenal sebagai penyumbang inflasi pangan. Harga cabai rawit hijau melonjak lebih dari 6 persen menjadi Rp59.600 per kilogram. Adapun cabai rawit merah naik hingga Rp78.600 per kilogram, menjadikannya salah satu komoditas pangan dengan harga tertinggi saat ini.
 

Lonjakan harga sejumlah kebutuhan pokok tersebut terjadi beriringan dengan kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Green 95. Pelaku pasar menilai naiknya biaya operasional distribusi menjadi faktor utama yang mendorong harga barang di tingkat konsumen ikut terkerek.

 

Meski demikian, tidak semua komoditas bergerak ke arah yang sama. Harga daging ayam ras segar justru mengalami koreksi cukup tajam hingga 7,7 persen menjadi Rp35.350 per kilogram. Telur ayam ras juga turun tipis ke level Rp30.050 per kilogram. Penurunan ini sedikit memberi ruang bernapas bagi konsumen yang tengah menghadapi kenaikan harga berbagai kebutuhan lainnya.
 

Di sektor protein hewani, harga daging sapi masih menunjukkan tren naik. Daging sapi kualitas I kini berada di angka Rp149.000 per kilogram, sementara kualitas II naik menjadi Rp142.450 per kilogram.