Rangkaian pemindahan dan pengembalian dana tersebut memunculkan pertanyaan mengenai alasan penggunaan rekening pribadi dalam pengelolaan uang kas, termasuk siapa yang memberikan persetujuan atas transaksi-transaksi tersebut.
Kecurigaan warga semakin menguat setelah ditemukan ketidaksesuaian saldo yang cukup mencolok pada awal Februari 2026.
Dalam laporan bendahara, saldo kas tercatat sebesar Rp19.004.138. Namun, rekening koran resmi paguyuban hanya menunjukkan saldo Rp6.014.138.
Artinya, terdapat selisih sebesar Rp12.990.000 atau hampir Rp13 juta yang hingga kini menjadi salah satu persoalan utama untuk dimintai penjelasan.
Pengeluaran Jutaan Rupiah Tanpa Bukti
Kejanggalan pengelolaan kas ternyata tidak hanya ditemukan dalam transaksi pemindahan dana antarrekening. Warga juga menyoroti sejumlah pengeluaran untuk kegiatan dan kebutuhan lingkungan yang tidak dilengkapi bukti transaksi memadai.