ESTORIA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal pekan. Pada perdagangan Senin (08/06/2026) pagi, mata uang Garuda dibuka melemah ke level Rp18.110 per dolar Amerika Serikat (AS), turun 104 poin atau 0,58 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS yang membayangi mayoritas mata uang global. Di kawasan Asia, sejumlah mata uang juga mengalami nasib serupa. Ringgit Malaysia mencatat pelemahan paling dalam dengan koreksi 0,93 persen, disusul peso Filipina yang turun 0,32 persen. Yen Jepang terkikis 0,03 persen, sementara dolar Hong Kong melemah tipis 0,01 persen terhadap mata uang Negeri Paman Sam.
Meski demikian, tidak semua mata uang Asia bergerak di zona merah. Yuan China masih mampu menguat 0,07 persen, won Korea Selatan naik 0,56 persen, dan dolar Singapura mencatat kenaikan tipis sebesar 0,01 persen.
Pergerakan beragam juga terlihat di kelompok mata uang negara maju. Euro melemah 0,01 persen, dolar Kanada turun 0,08 persen, franc Swiss terkoreksi 0,11 persen, dan poundsterling Inggris terdepresiasi 0,05 persen. Di sisi lain, dolar Australia masih berhasil menguat tipis 0,01 persen terhadap dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut. Penguatan dolar AS, menurutnya, dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan hasil lebih baik dari perkiraan pasar.